Halaman

Selasa, 05 Maret 2019


pH awal : 7
pH setelah diberi pewangi pakaian: 6
NO
Perubahan Pada Ikan
1-10 menit
10-20 menit
20-30 menit
1
Menit ke-9 1 ikan mencari oksigen
Menit ke-14

2.
Menit ke-10 2 ikan mencari oksigen


3.




Pembahasan
                Setiap organisme menempati habitatnya masing-masing. Suatu habitat terdapat lebih dari satu jenis oragnisme dan semuanya berada dalam suatu komunitas. Komunitas menyatu dengan lingkungan membentuk suatu ekosistem. Setiap organisme harus mampu beradaptasi berbagai kondisi lingkungan. Pada prinsipnya masing-masing hewan memiliki kisaran toleransi tertentu terhadap semua faktor lingkungan. Keberhasilan hidup hewan sangat ditentukan oleh kondisi dan sumberdaya yang terdapat di lingkungan.
                Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan berreproduksi mencerminkan keseluruhan toleransinnya tehadap seluruh kumpulan variabel lingkungan yang dihadapi organisme tersebut ( Otto 1926 ). Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis, dan tingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan homeostatis yang diperlukakn bagipertumbuhan dan reproduksi biota perairan ( Rahman 2010).
                Praktikum ini menggunakan pewangi pakaian sebagai bahan pencemar perairan. Air yang tercemar mengandung zata kimia yang berbahaya. Seperti air limbah deterjen yang mengandung ABS. Deterjen tersebut sukar dirusak oleh mikrooragnisme (nondegradable)  sehingga dapat merubah pH dari lingkungan ( Rubiatadji 1993). Pewangi pakaian dapat merubah pH dari perairan tersebut. pH awal air yang belum tercemar adalah 7, sedangkan setelah tercemat dengan pewangi pakaian pH air turun menjadi 6.
                Ikan Mas ( Cypritus carpio) merupakan organisme air yang responsif atau peka terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungannya. Sebelum perairan tercemar atau masih bersih, Ikan Mas terus bergerak aktif, sedangkan saat diberi pewangi pakaian, perilaku ikan menjadi berubah. Pada menit awal ikan belum menujukna perubahan perilaku, sedangkan pada menit ke-9 hingga menit ke-10 2 ikan melombat-lompat mencari oksigen. Pada menit ke-14 ikan 3 juga mengalami perubahan perilaku. Ikan yang ada perairan tercemar akan mengalami gangguan pada organnya. Larutan pewangi pakaian terus berdifusi ke sel sehingga insang ikan pun mengalami plasmolisis sehingga menyebabkan ikan-ikan pada air yang tercemar lemas dan kemudian mati. Semakin tinggi akumulasi pewangi pakaian maka semakin tinggi suplai oksigen terlarut dalam air. Hal tersebut menyebabkan terganggunya proses respirasi pada ikan. Kematian pada ika ini terjadi karena difungsi organ-organ pada tubuh ikan ( Yuliani R dkkk 2015).


Lokasi : Lapangan Lodaya
Jam      : 9.00-10.00
  • pH       : 7
Suhu    : 27
Kelembaban    : 50%

Tabel 1. Luasan Tanah 30 x 30 cm
No.
Hewan
Jumlah
5 cm
10 cm
15 cm
1.
Cacing
7
5
2
-
2.
Kumbang
1
1
-
-

  • pH       : 7
Suhu    : 27
Kelembaban    : 60%
No
Hewan
Jumlah
10 cm
20 cm
30 cm
1
Cacing Merah
10
4
6
-
2
Cacing pucet
10
7
3
-

Perhitungan
Tabel 1. Luasan Tanah 30 x 30 cm
  • kepadatan
cacing =


            Tanah merupakan lingkungan yan terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Gabingan dari komponen biotik dan abiotik ini membentuk suatu lingkungan yang dapat dijadikan sebagai tempat tinggal bagi organisme tanah. Tamah mempresentasikan sebuah habitat yang baik untuk mikroorganisme dan sebuah tempat huni yang luas bagi; Fungi, Alga, Arthropoda, dan Protozoa ( Koehler dalam Santoso R 2017). Fauna tanah merupakan komponen tanah yang bergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan populasi suatu jenis fauna tanah disuatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan dan populasi suatu jenis fauna tanah di suatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah tersebut atau oragnisme yang sebagian besar atau seluruh hidupnya dihabiskan di dalam tanah ( Kimmis dalam Anwar dan Ginting 2013).
            Secara umum fauna tanah dapat dipandang sebagai pengatur terjadinya proses dalam tanah atau berperan dalam kesuburan tanah bahkan beberapa jenis fauna tanah dapat digunakan sebagai indikator tingkat kesehatan disuatu lahan pertanian. Kelompok-kelompok oraganisme yang hidup di tanah membentuk suatu lokasi pada suatu sistem yang terintegrasi yang dapat disebut “komunitas tanah” yang bersama-sama dengan faktor lingkungan disebut ekosistem tanah (Suin 1997).
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa oragnisme yang paling banyak ditemukan adalah cacing tanang. Pada pengamatan petak 30x30 cm dengan lapisan dengan kedalaman sekitar 2 cm ditemukan seekor kumbang. Lapisan yang terdapat banyak cacing berdasarkan pengamatan yaitu lapisan dengan kedalaman 5 cm, sedangkan pada petak dengan ukuran 60x60 cm terdapat 2 jenis cacing yaitu cacing merah dan cacing pucat. Kepadatan populasi cacing pada petak 30x30 cm yaitu 0.875 dengan kepadatan relatif 87,5%, sedangkan kumbang sebesar 12,5%. Pada petak dengan luasan 60x60 cm diperoleh kepadatan relatif dari organisme-organisme yaitu sebesar 50%. Banyaknya organisme yang diperoleh tergantung atau dapat dipengaruhi oleg luasan,suhu,pH, dan kelembaban.
            Berdasarkan pengamatan kedua petak memiliki suhu dan pH yang sama yaitu 27ยบ dan pH sebesar 7, sedangkan kelembaban 50% dan pada luasan 60 x 60 cm sebesar 60%. Pada suatu peningkatan kelembaban akan mempengaruhi peningkatan oraganisme dan miroorganisme

Kesimpulan
            Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kerapatan relatif pada petak dengan luasan 30 x30 cm yaitu cacing dengan 87,5% dan kumbang sebbear 12,7%, sedangkan pada luasan 60 x60 cm dengan presentase cacing merah 50% dan cacing pucet 50%.

Kamis, 21 Februari 2019


Hari, Tanggal : Rabu, 26 September 2018 Dosen : Dimas Ardi Prasetya,S.T.,Msi.,
Pratikum Mata Kuliah : Hidrologi                              Sisi Febriyanti Muin,S.Si
Pratikum ke-3                                                              Siti Khomariah STP, Msi

EVAPOTRANSPIRASI

Description: Logo_IPB.png


Disusun Oleh :
IRMADYAH K.D     J3M217184



PROGRAM STUDI
TEKNIK DAN MANAJEMEN LINGKUNGAN
SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
HASIL DAN PEMBAHASAN
Grafik 1 ETP-CH (penman)
Grafik 2 Perbandingan ETp Penman dan Thornthwaite
Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan fase cair menjadi uap. Uap air di udara berasal dari penguapan air di permukaan bumi. Kondensasi dan presipitasi mengembalikan air ini ke permukaan bumi, melengkapi siklus hidrologi (Seyhan 1990).  Uap air yang dihasilkan dari proses tersebut berasal dari berbagai sumber di permukaan bumi akan bergerak ke lapisan troposfer bumi (Lakitan 1994).
Evaporasi di pengaruhi oleh beberapa faktor. Keadaan iklim yang mempengaruhi nilai evapotranspirasi adalah radiasi matahari, suhu,kelembaban udara dan kecepatan angin (Tjasyono B 2004). Salah satu faktor yang juga mempengaruhi evaporasi yaitu kualitas air. Laju evaporasi air garam lebih tinggi daripada air netral atau tawar. Hal tersebut berkaitan dengan massa jenis air. Lautan dengan kadar salinitas tinggi akan lebih cepat mengalami penguapan dibanding lautan dengan kadar salinitas rendah. Pada air yang tercemar limbah minyak dengan kadar tinggi dapat membentuk lapisan di atas permukaan air yang dapat menghambat proses evaporasi pada permukaan perairan.
Terdapat beberapa jenis evapotranspirasi yaitu, evapotranspirasi potensial (ETp), evapotranspirasi standar (ETo), evapotranspirasi tanaman (ETc), dan evapotranspirasi aktual (ETa). Perhitungan evapotranspirasi dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu metode Penman, Thorntwaite, Blaney Criddle, Hargreaves dan Radiasi. Pada praktikum kali ini metode yang digunakan yaitu Penman dan Thornthwaite.
Grafik 1 merupakan grafik pengukuran evapotranspirasi dengan metode Penman. Berdasarkan data yang diperoleh nilai ETp(mm/bulan) terbesar pada bulan agustus yaitu sebesar 202,75 mm/bulan. Nilai ETp yang terendah pada bulan Februari yaitu sebesar 142,14 mm/bulan. Nilai ETp(mm/bulan) pada metode Penman diperoleh dari perkalian ETp harian dengan jumlah hari di setiap bulannya.
Grafik 1 menunjukan perbandingan antara curah hujan dengan besarnya nilai ETp. Nilai curah hujan berbanding terbalik dengan nilai ETp. Curah hujan yang rendah menunjukan nilai ETp yang tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh curah hujan yang rendah menyebabkan intensitas atau radiasi matahari yang tinggi sehingga mengakibatkan cepatnya proses penguapan.
Grafik 2 menunjukan perbandingan antara perhitungan ETp dengan metode Penman dan metode Thornthwaite. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa nilai ETp tertinggi yaitu pada bulan Mei sebesar 481,89 mm/bulan sedangkan ETp terendah yaitu pada bulan Februari sebesar 389,86 mm/bulan. Perhitungan ETp dengan metode Thornthwaite merupakan metode yang tidak membutuhkan waktu yang lama karena metode ini hanya menggunakan data suhu rata-rata bulanan.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dengan menggunakan 2 metode tersebut dapat diketahui bahwa hasil kedua metode tersebut berbeda. Hasil yang diperoleh  memiliki selisih yang jauh. Hal tersebut diakibatkan oleh perbedaan data yang digunakan. Perhitungan dengan metode Penman menggunakan data iklim seperti kecepatan angin, radiasi, dan sebagainya. Metode Thornthwaite hanya membutuhkan data rata-rata curah hujan bulanan. Metode Thornthwaite cocok digunakan ketika tidak terdapat pengaruh pengangkatan uap air oleh iklim, karena hanya bergantung pada suhu rata-rata bulanan. . Berdasarkan kedua metode tersebut, metode yang lebih akurat digunakan yaitu metode Penman dibandingkan metode Thornthwaite. Hal tersebut disebabkan karena metode Penman menggunakan banyak unsur iklim untuk dipertimbangkan.
DAFTAR PUSTAKA
Lakitan. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. Jakarta(ID): Raja Grafindo Persada
Seyhan.1990. Dasar-Dasar Hidrologi,. Yogyakarta: Gadjah Mada University        Press
Tjasyono B. 2004. Klimatologi. Bandung(ID): ITB

pH awal : 7 pH setelah diberi pewangi pakaian: 6 NO Perubahan Pada Ikan 1-10 menit 10-20 menit ...