Hari, Tanggal : Rabu, 26 September 2018 Dosen : Dimas Ardi
Prasetya,S.T.,Msi.,
Pratikum Mata Kuliah :
Hidrologi Sisi
Febriyanti Muin,S.Si
Pratikum ke-3 Siti
Khomariah STP, Msi
EVAPOTRANSPIRASI

Disusun Oleh :
IRMADYAH K.D J3M217184
PROGRAM STUDI
TEKNIK DAN MANAJEMEN
LINGKUNGAN
SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
HASIL DAN PEMBAHASAN

Grafik 1 ETP-CH (penman)

Grafik 2 Perbandingan ETp Penman dan
Thornthwaite
Penguapan atau evaporasi
adalah proses perubahan fase cair menjadi uap. Uap air di udara berasal dari
penguapan air di permukaan bumi. Kondensasi dan presipitasi mengembalikan air
ini ke permukaan bumi, melengkapi siklus hidrologi (Seyhan 1990). Uap air yang
dihasilkan dari proses tersebut berasal dari
berbagai sumber di permukaan bumi akan bergerak ke lapisan troposfer bumi
(Lakitan 1994).
Evaporasi di pengaruhi oleh
beberapa faktor. Keadaan iklim yang mempengaruhi
nilai evapotranspirasi adalah radiasi matahari, suhu,kelembaban udara dan
kecepatan angin (Tjasyono B 2004). Salah satu faktor yang juga mempengaruhi evaporasi yaitu kualitas air. Laju evaporasi air garam lebih tinggi daripada air
netral atau tawar. Hal tersebut berkaitan dengan massa jenis air. Lautan dengan
kadar salinitas tinggi akan lebih cepat mengalami penguapan dibanding lautan
dengan kadar salinitas rendah. Pada air yang tercemar limbah minyak dengan
kadar tinggi dapat membentuk lapisan di atas permukaan air yang dapat
menghambat proses evaporasi pada permukaan perairan.
Terdapat beberapa jenis evapotranspirasi yaitu, evapotranspirasi
potensial (ETp), evapotranspirasi standar (ETo), evapotranspirasi tanaman (ETc), dan evapotranspirasi
aktual (ETa). Perhitungan evapotranspirasi dapat dilakukan dengan
beberapa metode yaitu metode Penman, Thorntwaite, Blaney Criddle, Hargreaves dan Radiasi. Pada praktikum kali ini metode yang digunakan yaitu Penman dan
Thornthwaite.
Grafik
1 merupakan grafik pengukuran evapotranspirasi dengan metode Penman.
Berdasarkan data yang diperoleh nilai ETp(mm/bulan) terbesar pada bulan agustus
yaitu sebesar 202,75 mm/bulan. Nilai ETp yang terendah pada bulan Februari yaitu sebesar
142,14 mm/bulan. Nilai ETp(mm/bulan) pada metode Penman diperoleh dari
perkalian ETp harian dengan jumlah hari di setiap bulannya.
Grafik 1
menunjukan perbandingan antara curah hujan dengan besarnya nilai ETp. Nilai
curah hujan berbanding terbalik dengan nilai ETp. Curah hujan yang rendah
menunjukan nilai ETp yang tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh curah hujan yang
rendah menyebabkan intensitas atau radiasi matahari yang tinggi sehingga
mengakibatkan cepatnya proses penguapan.
Grafik 2 menunjukan perbandingan antara perhitungan ETp dengan metode
Penman dan metode Thornthwaite. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa nilai
ETp tertinggi yaitu pada bulan Mei sebesar 481,89 mm/bulan sedangkan ETp
terendah yaitu pada bulan Februari sebesar 389,86 mm/bulan. Perhitungan ETp
dengan metode Thornthwaite merupakan metode yang tidak membutuhkan waktu
yang lama karena metode ini hanya menggunakan data suhu rata-rata bulanan.
Berdasarkan hasil yang
diperoleh dengan menggunakan 2 metode tersebut dapat diketahui bahwa hasil
kedua metode tersebut berbeda. Hasil yang diperoleh memiliki selisih yang jauh. Hal tersebut
diakibatkan oleh perbedaan data yang digunakan. Perhitungan dengan metode
Penman menggunakan data iklim seperti
kecepatan angin, radiasi, dan sebagainya. Metode Thornthwaite hanya membutuhkan data rata-rata curah hujan
bulanan. Metode Thornthwaite cocok
digunakan ketika tidak terdapat pengaruh pengangkatan uap air oleh iklim,
karena hanya bergantung pada suhu rata-rata bulanan. . Berdasarkan
kedua metode tersebut, metode yang lebih akurat digunakan yaitu metode Penman
dibandingkan metode Thornthwaite. Hal tersebut disebabkan karena metode Penman
menggunakan banyak unsur iklim untuk dipertimbangkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Lakitan. 1994. Dasar-Dasar
Klimatologi. Jakarta(ID): Raja Grafindo Persada
Seyhan.1990. Dasar-Dasar
Hidrologi,. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Tjasyono
B. 2004. Klimatologi. Bandung(ID):
ITB